Kemarin dulu ada seorang temen pembaca buku yang sekarang ada di Hongkong. Dengan jujur dia berkata kalau suka semua buku saya, hanya saja untuk buku mendadak ustad, dia kurang suka. Saya tanya alasannya, karena memang dia lebih suka buku yang ringan, bukan buku panduan. Hehehe padahal buku ini ringan banget dan bedanya cuma memang buku ini khas. Hanya untuk mereka yang mau belajar berdakwah bil lisan.
Mungkin ada komentar lagi?
Buku ini kemarin dibedah di acara anak-anak PPL UMS di SMA AL ISLAM 2 Solo. Di depan anak-anak SMP yang antusias, buku ini cukup bisa membuat mereka bersemangat. Meski puasa, mereka tetap melongo memperhatikan gimana cara ceramah yang menyenangkan.
Setelah penantian panjang, deg deg plas, akhirnya buku ane jadi juga. MENDADAK USTAD. Buku ini tipis, tetapi isinya ga tipis lho. Buku ini murah, tapi isinya bukan murahan lho. Buku ini bagus, isinya lebih bagus lagi. Kavernya keren, isinya lebih keren. Bukunya ringan, isinya gaya bahasa ringan dan cerdas. Teman yang sangat tepat untuk menyambut ramadan. Secara kita setelah baca buku ini menjadi lebih bermanfaat di lingkungan kita. Ya kan?
Kebayang ngga setelah baca buku ini jadi pede ceramah. Terus kemudian bersemangat memberi manfaat bagi orang lain. Kalau kata temen SMA saya, bagaimana menjadi lilin. Menerangi sesama meski hanya sekedar pelita kecil saja. Alangkah indahnya jika hidup yang sebentar ini bisa memberi manfaat kepada banyak orang. Mencerahkan dan membimbing ke jalan yang benar. Hidup untuk apa, kalau bukan untuk Allah Ta’ala.
Sukses untuk Anda!
Kenapa masjid sepi? Konon, di Jakarta sekarang banyak mesjid tapi sedikit jamaahnya. Masjid dibangun dengan sangat megah, luas dan besar. Tetapi jamaahnya paling hanya satu shaf saja. Itu pun shalat maghrib, lalu bagaimana jika shalat shubuh? Pasti lebih sedikit dari itu. Hal ini tentu saja menjadi keprihatinan luar biasa bagi kita semua.
Faktor penyebabnya bisa apa saja, manajemen ketakmiran masjid yang amburadul, ketidakbisaan orang Islam setempat menjual program kemasjidan atau karena memang masyarakat enggan ke masjid.
Banyak orang yang lebih tertarik membangun masjid tetapi tidak begitu tertarik menciptakan para takmirnya. Bagaiman menciptakan takmir masjid yang update, paham posisi, dan tahu bagaimana memakmurkan masjid. Takmir bukan hanya sekedar menghitung kotak infak saja. Tetapi ia harus berupaya keras berpikir bagaimana agar masjid selalu menyedot perhatian warga. Selalu menjadi pusat kegiatan dan rame oleh jamaah.
Anak muda harus dididik untuk dekat dengan masjid. Menjadi pengusung panji-panji keislaman mereka. Merangsek di depan sebagi pelopornya. Inilah saatnya berubah, inilah saatnya berbuat untuk ummat.
Beberapa teman sudah mulai tidak sabar ingin menunggu buku ini terbit. “Kapan bukunya jadi?” Saya jadi tidak enak menjawabnya. Karena memang buku ini terlalu lama di percetakan. Kata temanku bagian produksi, buku itu akan menjumpai kita pekan depan. Semoga saja demikian ya. Malahan ada yang sudah pesen lho, ga tanggung-tanggung yang pesen dari Tarakan. Jauh ya.
Alhamdulillahirabbil’alamien. Segala puji bagi Allah atas nikmat teman-teman yang bermanfaat, yang telah mewarnai hidup saya. Segala puji bagi Allah atas karunia limpahan ide luar biasa yang mengelilihi hati dan pikiran saya. Insya Allah saya tidak akan menyia-nyiakannya.
Shalawat dan salam bagi Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, tabiin dan tabiut tabiin yang telah berjuang untuk kejayaan Islam. Semoga kita termasuk dalam ummat Muhammad yang diberi barakah luar biasa atas usia dan waktu yang kita punya.
Berawal dari sebuah acara di pesantren Dar Asy Syahadah, saya mendapatkan ide menulis buku ini. Di hadapan 500-an santri, saya berbicara tentang public speaking untuk santri di pesantren itu. Mereka antusias mengikuti ceramah hingga selesai. Hingga acara usai, saya masih dikejar santri yang mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana mengalahkan rasa grogi, minder dan was-was sebelum ceramah. Akhirnya saya berjanji saya akan menulis buku tentang itu. Alhamdulillah, harapan itu terwujud menjadi kenyataan.
Saya juga gelisah, saat melihat dan mendengar ceramah di masjid-masjid yang tidak menggairahkan. Orang bosan dengan gaya khatib jumat yang monoton, gaya mubaligh yang asal lucu, atau gaya penceramah yang EGP (emang gue pikirin). Materi ceramah agama yang seharusnya memberi pencerahan telah gagal tersampaikan karena kemasan yang kurang bagus dan asal-asalan.
Nah, ketika rasa kegelisahan ini menumpuk menjadi besar, mendorong saya untuk menyimpulkan bahwa semuanya terjadi karena menjadi ustad atau penceramah dikerjakan secara dadakan. Ceramah dilakukan tanpa latihan, dan asal jalan. Mereka mendadak menjadi ustad. Hasilnya ceramah kocar kacir tidak karuan dan hadirin ogah mendengarkan.
Padahal kemasan itu penting, sama pentingnya dengan konten ceramah itu sendiri. Kalau kemasannya bagus, audience akan tertarik untuk mendengarkan. Dan kebenaran islam pun akan segera menyapa dan merasuki jiwa mereka.
Saya berharap buku ini bisa menjadi teman bagi anak muda yang mau berbagi untuk sesama. Berbagi hati, semangat, ilmu dan daya juang untuk kejayaan islam. Karena islam akan selalu jaya, dan memenangkan pertempuran peradaban yang kini telah digelar. Allahu Akbar!
Saya menantikan tanggapan, atau sapaan dalam bentuk apapun tentang buku ini. Silakan menghubungi saya via email atau bahkan SMS. Selama pulsa saya masih, saya akan membalas SMS pembaca semua.
Solo, Awal Tahun 2008
Burhan Sodiq
Email: burhanshadiq@yahoo.com
Blog: www.burhanshadiq.com


